MEREVOLUSI MENTAL PENDIDIK Wujudkan Budaya Kualitas

By Administrator 05 Jul 2015, 23:39:59 WIBPendidikan

MEREVOLUSI  MENTAL PENDIDIK Wujudkan Budaya  Kualitas

Oleh : Kholiq Asyhuri, S.Pd.. SE, MM
Penulis & Pemerhati Pendidikan

Akhir bulan (31/8) lalu penulis kembali berkesempatan menghadiri diskusi rutin yang dilakukan kelompok kecil guru dan kepala sekolah di daerah Kediri. Forum ini senantiasa mengangkat topik-topik aktual dan menarik untuk menjadi bahasan para pendidik itu. Diskusi pendidikan yang kali ini diselenggarakan di kawasan Kunjang, mengambil topik kualitas pendidikan (sekolah) yang standarnya terimplementasi dalam instrumen akreditasi sebagai  bahasan utama. Selanjutnya topik itu dikaitkan dengan kurikulum 2013 yang tahun ini dilaksanakan secara merata di seluruh sekolah. Sebuah catatan khusus penulis coba untuk mengapresiasi forum itu.

PILAR KUALITAS
Kurikulum dan kualitas pendidikan adalah dua hal yang  memiliki korelasi sangat erat sehingga amat tepat bila dijadikan pokok bahasan pada satu forum. Kurikulum merupakan pilar utama kualitas suatu pendidikan mendampingi unsur pendidik. Itu artinya, untuk mencapai kualitas pendidikan yang optimal, kurikulumnya harus sempurna dan pendidiknya harus profesional. Sedang unsur lain dalam delapan standar pendidikan di Indonesia menjadi penyokong keduanya, semisal sarana prasaran, pembiayaan dan lain-lain.
Kurikulum dianggap sebagai unsur dominan dalam peningkatan kualitas pendidikan sebab pada kurikukum terkandung unsur standar isi, proses, evaluasi atau penilaian dan kelulusan. Sedang sarana prasarana, pembiayaan dan yang lain menjadi instrumen pendukungnya. Kemudian unsur standar pendidik dan tenaga kependidikan menjadi semacam ruhnya, sebab merekalah yang menggerakkan kurikulum agar berjalan seperti yang dikehendaki atau idealisme para perancang dan pengambil kebijakan kurikulum tersebut.
Ibarat sebuah mobil, kurikulum adalah mesinnya, standar lain sebagai bodi dan pendidik bertindak selaku pengemudi. Sebaik apapun mesinnya, semulus apapun bodinya, bila pengemudinya tidak profesional maka mobil itu tidak jalan. Oleh karenanya, dilakukanlah akreditasi pada setiap satuan pendidikan dan pada setiap program studi bahkan institusi untuk perguruan tinggi. Itu semua dimaksudkan agar kualitas pendidikan sebagaimana amanat kurikulum tercapai dengan sempurna. Semua kondisi dipotret lewat instrumen-instrumen yang ada dalam akreditasi.
Selanjutnya, untuk SDM-nya terutama pendidik dilakukan sertifikasi untuk menjaga standar kompetensinya sekaligus bentuk pertanggungjawaban atas profesi yang kini disandangnya. Demikian juga sumber daya manusia (SDM) kependidikan apapun perannya juga diharapkan memiliki kelayakan yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi. Sertifikat ini ibarat SIM agar seorang pengemudi bisa menjalankan kendaraan (mobil). Tanpa SIM atau sertifikat kompetensi, kendati mahir tampaknya masih dipertanyakan keahliannya.

PANDANGAN MENDIKBUD
Searah dengan ini Mendikbud Mohammad Nuh saat memberikan paparan tentang Kurikulum 2013 dalam acara silaturahmi bersama jajaran dinas pendidikan se-Eks Karesidenan Madiun, di Pendopo Kantor Bupati Ponorogo, Juli lalu juga mengemukakan hal serupa. Menurutnya, untuk membuat sekolah memiliki kualitas baik, diperlukan tiga hal, yaitu guru, kurikulum yang bagus,  serta fasilitas atau infrastruktur yang baik.
“Dari ketiga itu yang paling dominan adalah guru dan kurikulum,” tutur Mendikbud. Menurutnya, untuk membuat guru menjadi berkualitas, maka guru harus diajarkan hal-hal  yang akan guru tersebut ajarkan kepada peserta didik. “Diajarkan apa yang akan diajarkan, itu namanya kurikulum,” katanya. Sedangkan dalam kurikulum harus mencakup standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi.
Harapan dari pendidikan, ujarnya, adalah memiliki standar kompetensi lulusan peserta didik dengan keutuhan standar kompetensi. Kompetensi tersebut terdiri dari kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang menjadi satu kesatuan.
“Kita ingin anak-anak kita bukan sekedar memiliki sikap yang bagus, tetapi pengetahuan dan keterampilannya juga menjadi satu kesatuan, dan ini menjadi esensi dari Kurikulum 2013,” ujar Mendikbud.  Objek yang dipelajari dalam kurikulum 2013 adalah fenomena alam, sosial, serta seni dan budaya.
Mendikbud mengatakan dalam kurikulum 2013 juga menggabungkan etika, logika, dan estetika menjadi satu kesatuan utuh. Sehingga yang membedakan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah dalam proses pembelajaran. Peserta didik diajarkan dan dibiasakan untuk observasi, bertanya, bernalar, bereksperimen, dan berkomunikasi.
“Dalam kurikulum 2013, kita ingin mengajarkan kepada anak-anak kita sejak kecil kalau kita semua adalah bersaudara dalam keberagaman. Saya berharap Kurikulum 2013 ini dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik, “ ucapnya sebagaimana termuat dalam website Kemdikbud.
Menggarisbawahi pernyataan Mendikbud tersebut, tampaknya para guru atau pendidik saat ini benar-benar dituntut agar mampu menyesuaikan diri dengan kehendak kurikulum 2013 agar kualitas pendidikan seperti yang diharapkan, yakni menjadikan Generasi Indonesia Emas pada 2045 bisa terwujud.
Berkenaan dengan itulah maka syarat untuk bisa menjadi seorang guru kian hari kian diketatkan. Untuk yang terkini, sejalan dengan UU Guru dan Dosen, sebelum menjadi guru, calon pendidik harus sudah mengantongi sertifikat pendidik (kompetensi), terlebih setelah tahun 2015. Bagi mereka yang sudah menjabat sebagai pendidik (guru) dilakukan sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi. Awalnya sertifikasi cukup melalui jalur portofolio, langsung dan pendidikan serta PLPG. Belakangan sertifikasi ditekankan melalui jalur PLPG agar kualitas sertifikasi lebih terjamin.

REVOLUSI MENTAL
Adanya sertifikasi guru maupun pengetatan akreditasi sekolah termasusk perguruan tinggi, entah itu program studi maupun institusi, itu semua dimaksudkan untuk menderek kualitas pendidikan di Indonesia. Adanya embel-embel tunjangan sertifikasi sebenarnya bukan tujuan utama. Di balik itu, keharusan seorang guru memiliki sertifikat pendidik (kompetensi) sebenarnya dalam rangka revolusi mental pendidik dan mengubah cara pandang masyarakat akan profesi seorang guru.
Pengakuan seorang guru sebagai sebuah profesi saat ini juga masih setengah hati, bahkan seorang guru sendiri masih banyak yang belum sadar bahwa pekerjaan yang diembannya adalah sebuah profesi yang secara yuridis telah diakui. Oleh karenanya seorang guru dituntut memiliki tanggung jawab profesi dan ia harus pula siap berhadapan dengan dewan etik guru apabila tidak bekerja secara profesional.
Dengan dipaksanya seorang guru memiliki pendidikan yang linier dan memiliki sertifikat pendidik yang linier pula adalah dalam rangka memperkuat profesionalitas seorang guru. Oleh karenanya tidak mengherankan bila kemudian ada guru yang diminta mengikuti sertifikasi kedua agar sertifikat yang dimiliki linier dengan ijazah atau latar belakang pendikan guru bersangkutan. Adanya semacam pemaksaan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, harus kita pahami bahwa itu sebenarnya semata-mata dilakukan demi sebuah profesi guru dan masa depan pendidikan di Indonesia.
Adanya keharusan seorang guru memiliki sertifikat pendidik yang linier dengan mata pelajaran yang diampu serta ijazah yang dimiliki, memang sebuah keniscayaan dalam revolusi mental. Harapannya kelak akan tertanam pada benak generasi calon guru di dekade berikutnya bahwa untuk bisa menjadi guru memang seperti itulah syaratnya. Sehingga calon guru akan menghargai kualitas dan profesionalitas dan bukan pilihan terakhir sebuah profesi. Guru bukan lagi pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan dasar ‘daripada tidak kerja’ seperti sebelumnya. Memang harus dipaksakan saat ini sebab pengakuan guru sebagai sebuah profesi sebenarnya jauh amat tertinggal apabila dibandingkan profesi lain yang (profesi itu) awalnya justru dilahirkan oleh para guru. Oleh karenanya, profesi guru harus ditegakkan agar mampu berdiri sejajar dengan profesi lain, semisal profesi dokter, advokat, dan lain-lain.

MEMBUDAYAKAN  KUALITAS
Sebuah lembaga atau satuan pendidikan pada dasarnya juga institusi layanan sehingga pelayanan prima harus dikedepankan. Satuan pendidikan pada dasarnya juga memerlukan pemasaran sehingga harus mampu memberikan servis memuaskan bagi para pelanggannya. Customer sebuah insitusi pendidikan adalah dewan guru, peserta didik, wali murid serta masyarakat sekitar. Terhadap mereka institusi pendidikan harus memberikan layanan yang smart bukan menganggapnya sebagai pihak yang butuh atau bak majikan dengan buruh. Ini salah kaprah!
Satuan pendidikan atas kesadaran sendiri harus berupaya untuk setidaknya memenuhi delapan standar pendidikan agar mampu memberikan layanan yang baik bagi para pelanggannya. Bila mampu menunjukkan layanan yang memuaskan maka dengan sendirinya nama baik (brand image) lembaga itu akan terkerek juga. Apabila nama baik lembaga pendidikan sudah didapat, niscaya pelanggan baru dalam hal ini peserta didik niscaya akan berdatangan dengan sendirinya.
Banyak ditemukan sebuah satuan pendidikan yang besar dan punya nama berkelas dalam kurun waktu tidak terlalu lama mengalami mati suri bahkan ada pula yang gulung tikar. Hal itu menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tersebut tidak mampu mempertahankan prestasi yang diraihnya. Kasus ini rata-rata dialami oleh sekolah-sekolah yang merasa sudah favorit. Karena merasa sudah unggul, SDM sekolah itu termasuk manajemennya enggan melakukan inovasi dan improvisasi. Dampaknya tanpa sadar disalip oleh sekolah-sekolah baru yang awalnya tidak mereka perhitungkan.
Oleh karenanya budaya menjaga kualitas harus dikembangkan agar pemenuhan delapan standar pendidikan hanya disiapkan kala menjelang akreditasi sekolah. Hari-hari lain akan kembali seperti awal mulanya.Sehingga tak mengherankan kalau banyak sekolah yang stagnan, mengalami kejumudan akibat kemalasannya meningkatkan kualitas. Adanya akreditasi sebenarnya justru membantu sekolah dalam mengawal dan meningkatkan kualitas.
Bagi sekolah yang sudah memiliki budaya unggul dalam setiap bidangnya, senantiasa tidak akan pernah merasa puas atas kualitas atau prestasi yang dimiliki. Mereka juga tidak puas hanya sekadar memenuhi delapan standar pendidikan, ingin plus dan plus. Oleh karenanya tak mengherankan kini beberapa sekolah sudah mendapatkan sertifikat ISO (International Organization for Standardization). Mereka kurang puas kalau hanya mengandalkan delapan standar pendidikan produk pemerintah.
Menghadapi pasar bebas ASEAN tahun depan, satuan pendidikan termasuk para pendidik dan tenaga kependidikan tidak bisa diam dan berpangku tangan. Bila sampai enggan memacu diri, bisa-bisa tanpa sadar terlibas oleh para pesaing yang awalnya tidak masuk dalam prakiraan manajemen sekolah. Contoh kasus semacam itu sudah banyak dan untuk menjadi sebuah pembelajaran tidaklah perlu kita sendiri yang harus mengalami.
Kini dengan diterapkannya kurikulum 2013 di seluruh sekolah, mudah-mudahan presiden baru dan pemerintahan baru melanjutkan dan memperbaiki berbagai kekurangan yang dimiliki. Sehingga pembangunan pendidikan di Indonesia bisa bejalan ke tangga yang lebih tinggi dan baik. Kasus kurikulum berbasis kompetensi (KBK) berubah baju menjadi KTSP semoga tidak terulang pada kurikulum 2013 agar insan pendidikan tidak mengalami kebingungan. Jangan sampai gas yang baru dipijak harus direm kembali gara-gara mendadak ganti pengemudi. Ibaratkan moda angkutan lain yang tidak mesti berhenti walau ganti pengemudi. Bukankah begitu? #
kholiqasyhuri@gmail.com

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

MEDIA NEWS

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Apakah Anda mengalami kesulitan dalam mengakses Website MEDIA?
  Tidak ada kesulitan mengakses
  Sulit mengakses

Komentar Terakhir

  • LgtuExibe

    small personal loans - https://leopaydayadvanceonlinefastpayday.org/ instant online loans ...

    View Article
  • Bdvvdet

    loan payday savings - https://repsmallloansonlinepaydayloan.org/ bad credit loan <a ...

    View Article
  • VerTilt

    small business loans - http://badcreditlomq.com/ no credit check mortgage <a ...

    View Article
  • LgtuExibe

    debt consolidation programs - https://leopaydayadvanceonlinefastpayday.org/ business loans ...

    View Article